Pengertian Nasi Tumpeng

Pengertian Nasi Tumpeng

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, “Tumpeng” bisa diidentifikasikan sebagai nasi yang di sajikan dalam wujud seperti “Kerucut”, sebagai nasi yang di sajikan dalam wujud seperti kerucut untuk selamatan. Sajian khas ini bisa kami jumpai dalam betbagai acara perayaan atau selamatan baik di desa-desa maupun di kota-kota besar dalam lingkung pulau Jawadwipa sementara ini.

Jika kami membaca salametan dalam budaya Sunda, kami bisa menyadari bahwa tumpeng merupakan hidangan dalam rutinitas atau upacara tertentu. Maka bersama dengan demikianlah bisa dikatakan bahwa tumpeng juga merupakan sajian yang sakral dan miliki makna filosofis dan simbolis. Kehadiran tumpeng dalam rutinitas salametan dalam budaya Sunda berikan makna yang “dalam”, begitu pula dalam materi tambahan tumpeng itu sendiri.

Nasi Tumpeng yang bersifat kerucut ditempatkan di tengah-tengah dan berbagai macam lauk pauk disususun di sekeliling kerucut tersebut. Penempatan nasi dan lauk pauk seperti ini disimbolkan sebagai Gunung dan Tanah yang Subur di sekelilingnya. Tanah di sekeliling gunung dipenuhi bersama dengan bermacam tanaman dan lauk pauk. Itu semua sebagai simbol atau tanda yang berasal berasal dari alam, hasil tanah. Tanah jadi simbol kesejahteraan yang hakiki Pesan Nasi Tumpeng di Kramat Jati .

Penempatan dan penentuan lauk-pauk dalam tumpeng juga didasari dapat ilmu dan jalinan mereka bersama dengan alam. Oleh gara-gara itulah lauk-pauk ditempatkan di sekeliling nasi gara-gara memang berasal dari sanalah mereka berasal.

Selain penempatan, penentuan lauk juga didasari oleh kebijaksanaan yang berasal berasal dari Alam. Tumpeng merupakan simbol ekosistem kehidupan. Kerucut nasi yang menjulang tinggi melambangkan ke-Agung-an Tuhan Yang Maha Pencipta Alam berserta Isinya, namun aneka lauk-pauk dan Sayuran merupakan simbol berasal dari kandungan isi alam ini.

1. Komponen-komponen Yang Umum dalam Nasi Tumpeng
Secara umum komponen yang digunakan dalam tumpeng antara lain nasi (dari beras), sayuran atau urap-urapan dan lauk-pauk. Nasi yang digunakan sebagai tumpeng di sajikan secara khas yakni di sajikan dalam wujud kerucut, sebagai sajian pengiring juga di sajikan sayur-mayur dan lauk-pauk. Sayuran yang umumnya digunakan dalam sajian ini diantaranya kangkung, bayam dan kacang panjang, Sayuran dimasak urap. Sayuran di sajikan di sekeliling nasi tumpeng. Selain sayur sebagai pengiring nasi tumpeng, lauk-pauknya merupakan tipe menu yang umum dipilih, melamvangkan kekayaan hasil bumi, sebagai rasa syukur atas bermacam anugerah yang telah berlimpah. Berbagai tipe sayuran dan lauk-pauknya tidak dipilih begitu saja gara-gara tiap setiap jenisnya miliki nilai filosofis dan Simbolis, yang sesuai bersama dengan letak wilayah atau suasana geografisnya (Girang dan Hilir).

2. Nakna Bentuk Nasi Tumpeng Sunda
Nasi bersifat gugunungan atau kerucut itu sarat nilai filosofis dan Simbolis. Gunung dalam rutinitas Sunda, sering disimbolkan dan diidentikan sebagai daerah Yang Maha Tinggi, dalam konteks makrokosmis daerah gumulungnya diri bersama dengan alamnya dan Yang Maha Cahaya (BERSINERGI DENGAN ALAM). Meski kini mayoritas orang Sunda adalah muslim, dapat tapi tetap banyak rutinitas penduduk yang berpijak terhadap akar-akar religi sebelumnya.Dalam refleksi selanjutnya, bagi orang Sunda, Gunung merupakan daerah sakral gara-gara sebagai Simbol berasal dari puncak orientasi kehidupan manusia Sunda yakni “Sampurna” atau “Purna”.

Bentuk Tumpeng yang seperti Gunung dalam rutinitas Sunda miliki makna memasang Tuhan Yang Maha Kuasa terhadap posisi puncak, tertinggi, yang menguasai alam semesta dan manusia. Bentuk ini juga mengambarkan bahwa Tuhan Yang Maha Kuasa itu Awal dan Akhir.

Tumpeng yang digunakan sebagai Simbolisasi berasal dari karakter alam dan manusia yang berasal berasal dari Tuhan dan dapat kembali kepada-nya (pulang ka Jati pulang Ka Asalna). Bentuk Tumpeng juga seperti tangan terkatupm sama sekali sementara seseorang menyembah. Hal ini juga rela mengambarkan bahwa Allah patut disembah dan dimuliakan, Bentuk mengunung nasi tumpeng menggunung nasi tumpeng dipercaya mengandung harapan supaya hidup kami jadi naik dan beroleh kesejahteran yang tinggi.

Dalam rutinitas Selamatan penduduk Sunda, puncak acara adalah pemotongan bagian atas berasal dari nasi Tumpeng (Puncak Manik dalam Istilah Sunda). Pemotongan ini ditunaikan oleh orang yang dituakan atau dihormati (tokoh penduduk atau pemangku Adat). Peristiwa ini adalah sebuah ungkapan, bahwa penduduk Sunda memegang teguh nilai luhur kekeluargaan dan memandang orang tua sebagai Figur yang terlampau dohormati (pupuhu atau kasepuhan). Setelah itu, nasi Tumpeng disantap bersama-sama. Upacara potong tumpeng ini melambangkan rasa syukur kepada Tuhan dan sekaligus ungkapan atau ajaran hidup mengenai kebersamaam dan kerukunan.

3. Makna Dibalik Warna Tumpeng
Selain perupaan, kami juga bisa memandang makna filosofis dan simbolis dibalik warna nasi tumpeng. Ada dua warna dominan nasi tumpeng yakni putih dan kuning. Bila kami kembali terhadap efek ajaran Sunda yang tetap kental di Tatar Sunda, warna dilambangkan bersama dengan putih telur (endog bobodasna dalam bahasa Sunda). Selain itu warna putih di banyak bermacam agama melambangkan kesucian. Warna kuning seperti emas melambangkan laku emas atau laku muli yang dapat mendatangkan limpahan rahmat dan kebaikan dan berarti juga sebagai Simbol Dinasti Galuh. Sunda dan Galuh secara bersinergi menjungjung tinggi nilai-nilai luhur agama dalam nagara atau dikenal bersama dengan makna Nagara Karta, Darigama dan Panatagama.

4. Makna Simbolik Komponen Dalam Tumpeng
Melihat jalinan antara makna dibalik perupaaan tumpeng, keseluruhan makna berasal dari tumpeng ini adalah pernyataan dapat ada Kuasa makrokosmis yang lebih besar berasal dari manusia (YANG MAHA CAHAYA/TUHAN SEMESTA ALAM).

Yang menguasai alam dan aspek kehidupan manusia, yang memilih awal dan akhir. Wujud nyata berasal dari pernyataan ini adalah sikap penyembahan terhadap Sang Maha Kuasa di mana rasa syukur, pengharapan dan doa dilayangkan kepada-Nya supaya hidup jadi baik, menanjak naik dan tinggi seperti halnya wujud kemuncak tumpeng itu sendiri. Jadi Tumpeng mengandung makna religius (spiritual) yang dalam, supaya kehadirannya jadi sakral dalam upacara syukuran atau selamatan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *